Author name: Admin

Cara Memfranchiskan Bisnis : Membuat Standarisasi Model Bisnis

Ketika sudah memiliki bisnis yang berjalan cukup stabil secara keuangan, memiliki pelanggan yang loyal, merek yang cukup dikenal masyarakat serta yang paling penting menghasilkan keuntungan yang baik. Maka langkah selanjutnya adalah berpikir untuk mengembangkan bisnis menjadi lebih besar lagi, menjadi lebih banyak cabang lagi dan ujung-ujungnya agar memberikan keuntungan yang lebih besar lagi. Untuk sampai ke tahap seperti itu ada beberapa cara pengembangan usaha yang dapat dipilih. Bahkan ketika kondisi sedang pandemi saat ini, bukan halangan untuk menduplikasi usaha. Salah satu alternatif pengembangan usaha yang dapat dipilih adalah dengan memfranchisekan bisnis. Untuk memfranchisekan bisnis langkah awal yang perlu dilakukan adalah dengan membuat standarisasi model bisnis. Hal ini penting untuk dilakukan karena menduplikasi bisnis yang standar akan lebih mudah daripada yang tidak standar. Model bisnis yang distandarkan sebaiknya adalah model bisnis yang proven, atau dengan kata lain bisnis yang sudah terbukti bisa jalan dan memberikan keuntungan. Dalam membuat standarisasi model bisnis, setidaknya ada 2 hal penting yang harus distandarisasi, yaitu standarisasi bentuk dan standarisasi proses. Standarisasi bentuk merupakan standarisasi yang berkaitan dengan fisik bangunan outlet, peralatan serta perlengkapan yang harus ada di outlet yang akan diduplikasi. Sedangkan standarisasi proses merupakan setiap proses kerja standar yang harus dijalankan oleh karyawan di outlet. Standarisasi bentuk meliputi ukuran outlet, desain, atribut identitas usaha, peralatan dan perlengkapan kerja karyawan outlet dan lain sebagainya. Seluruh standarisasi bentuk ini umumnya bersifat investasi fisik di outlet. Sedangkan standarisasi proses meliputi standarisasi kegiatan marketing di outlet, proses operasional di outlet, proses pengelolaan keuangan, proses pengelolaan karyawan hingga pengelolaan stok (apabila ada stok barang dagangan) dan proses lain yang terkait kegiatan usaha di outlet. Kegiatan standarisasi proses ini akan berkonsekuensi pada biaya rutin outlet. Misalnya apabila kita membuat standarisasi kegiatan marketing, maka sebagai konsekuensinya kita akan memiliki biaya rutin untuk melakukan kegiatan marketing setiap bulannya. Demikian juga pada proses kegiatan-kegiatan lainnya. Ketika kita sudah memiliki model bisnis yang standar tentu akan lebih mudah untuk menduplikasi usaha. Namun, model bisnis yang telah standar ini perlu dievaluasi secara berkala dan dilakukan perbaikan untuk menyesuaikan dengan perkembangan zaman. Perbaikan ini dilakukan untuk tujuan mengikuti perkembangan selera pasar, atau untuk melakukan penetrasi ke pasar dengan level yang lebih tinggi. Harapan akhirnya bisa setara dengan standar global. Semoga penjelasan di atas bermanfaat buat Anda yang sedang memfranchisekan bisnis. Atau jika Anda masih kesulitan dalam mempersiapkan bisnis Anda menjadi bisnis franchise, Silahkan kontak saya di wahdifakhrozy@yahoo.com Selamat berbisnis franchise ! Salam, Wahdi Fakhrozy THE FRANCHISE CONSULTANT wahdifakhrozy@yahoo.com Menara 165 Office & Convention Center Jl.TB Simatupang Kav 1 Cilandak Timur Jakarta Selatan

Cara Memfranchiskan Bisnis : Membuat Standarisasi Model Bisnis Read More »

8 Tindakan Franchisee yang Dapat Merugikan Franchisor

Pada artikel ini akan dibahas hubungan antara franchisor dan franchisee dari sudut pandang pemilik brand (merek). Franchisor sebagai pemilik merek yang mengembangkan produk, konsep bisnis serta inovasi yang menyebabkan produk dan jasanya disukai oleh masyarakat tentu akan sangat berkepentingan dalam melindungi kekayaan intelektualnya terutama yang dikerjasamakan dengan franchisee-nya.   Untuk itu, franchisor tentu sangat berharap kerjasama yang dibangun dengan franchisee-nya berjalan baik dengan mendapatkan franchisee yang kooperatif. Namun bisa saja terjadi dimana franchisee yang diajak bekerjasama melakukan tindakan yang dapat merugikan franchisor. Berdasarkan pengalaman beberapa franchisor, setidaknya ada 8 tindakan franchisee yang dapat merugikan franchisor yang sering terjadi dalam hubungan franchise, yaitu:   Franchisee membeli bahan baku dari supplier lain Franchisee memutuskan kerjasama sebelum berakhirnya perjanjian Franchisee tidak mau membayar royalty Franchisee membuka usaha sejenis Franchisee komplain bahwa franchisor tidak memberikan dukungan kepada usahanya Franchisee komplain bahwa franchisor melakukan mark-up terlalu tinggi atas bahan baku yang disupply Franchisee menjual usahanya kepada pihak lain Franchisee mendaftarkan merek milik franchisor sebagai miliknya   Dari kejadian di atas sebaiknya bisa menjadi pelajaran bagi franchisor baru ataupun calon-calon franchisor, agar bisa menyiapkan langkah- langkah antisipasi agar tidak mengalami hal serupa. Pada prinsipnya apabila franchisor bisa selektif dalam memilih mitra yang diajak kerjasama dan selalu memberikan dukungan agar franchisee-nya sukses, maka resiko terjadinya kejadian seperti di atas dapat ditekan. Apabila ada hal mengenai franchise yang ingin didiskusikan, silahkan hubungi saya di wahdifakhrozy@yahoo.com Selamat berbisnis franchise ! Salam, Wahdi Fakhrozy THE FRANCHISE CONSULTANT wahdifakhrozy@yahoo.com Menara 165 Office & Convention Center Jl.TB Simatupang Kav 1 Cilandak Timur Jakarta Selatan

8 Tindakan Franchisee yang Dapat Merugikan Franchisor Read More »

Cara Memfranchisekan Bisnis

Sudah mempunyai beberapa toko, dan dapat penawaran untuk membuka tokonya diluar kota. Sebagai #KonsultanFranchise saya sering sekali mendapatkan pertanyaan seperti ini. Usaha (toko) yang sudah berjalan dan kelihatan sukses, sering mendapat permintaan untuk membuka cabangnya ditempat lain, atau ada pihak-pihak yang ingin membeli #Franchise nya untuk mereka usaha sendiri dengan brand dan konsep toko yang sudah kelihatan sukses itu. Sebenarnya untuk menduplikasi usaha (toko) itu ditempat lain tidak sulit. Seperti membuka cabang seperti biasa saja. Hanya saja kalau toko yang dibuka ditempat lain itu melibatkan pihak/mitra lain sebagai pemilik atau pemodal, maka perlu dibuat tersistem dan dengan perhitungan yang matang untuk dapat meraih keuntungan yang bagus. Dengan demikian akan memudahkan untuk saling melihat progres usaha (toko) yang dimitrakan tersebut dengan sudut pandang yang sama. Sebagai #KonsultanFranchise , hal inilah yang saya arahkan kepada klien untuk mempersiapkan sistem yang baru dalam membuka dan menjalankan usaha (toko)nya. Membuka toko ditempat lain (luar kota) bisa dilakukan dengan 3 cara: (1). Membuka cabang sendiri. (2). Membuka toko dengan joint venture, dimiliki bersama mitra. (3). Dilakukan dengan #Franchising, yaitu dimiliki oleh mitra sepenuhnya. Bila ada produk yang akan disuplai ke toko-toko yang akan dibuka, seperti: barang dagangan, bumbu, atau bahan baku, maka membuka toko ditempat lain (luar kota) dengan #Franchising menjadi cara yang strategis. Berikut ini penjelasan cara sederhana #memfranchisekan bisnis: Kita anggap kita akan “mengajari” mitra franchisee untuk membuka toko dan menjalankan bisnis tokonya. Jadi, ‘ngajarin’ -> Training oriented. Mulai dari memilih lokasi yang bagus, melakukan renovasi, membeli peralatan, merekrut karyawan dan menjalankan operasional bisnisnya. Maka dibisnis franchise, semakin sederhana prosesnya, akan semakin mudah untuk mitra menjalankan bisnisnya dengan sukses. Simplify!. Supaya memudahkan prosesnya, dilakukan standarisasi disemua bidang: standarisasi desain, peralatan, proses marketing, proses operasional, dan proses administrasi keuangan. Lebih baik lagi jika semua tertulis (standard operating procedure – SOP) atau bahkan terintegrasi dengan sistem IT. Lakukan training yang intensif. Bukan sekedar ‘ngasih tahu’. Lakukan traning secara berkelanjutan, agar mitra franchisee bisa menjalankan bisnisnya dengan sukses. Semakin mitra franchisee sukses, maka kita sebagai franchisor (pemberi franchise) juga akan lebih sukses. Lakukan monitoring yang konsisten pada toko-toko mitra/franchisee. Pastikan betul-betul mereka menjalankan SOP dan program-program yang diberikan oleh franchisor. Beginilah kira-kira saya sebagai #KonsultanFranchise membimbing klien-klien yang akan memfranchisekan bisnisnya. -burang riyadi konsultan franchise.blogspot.com IG @franchise.advisor

Cara Memfranchisekan Bisnis Read More »

Langkah Praktis Membuat Perjanjian Franchise

  Ketika mewaralabakan usaha, kelengkapan yang wajib dimiliki salah satunya adalah perjanjian waralaba. Perjanjian waralaba merupakan rujukan bagi kedua belah pihak yang bekerja sama, yaitu franchisor dan franchisee. Sehingga perjanjian ini akan bersifat mengikat dan menjadi dasar hukum apabila dikemudian hari terjadi masalah dalam periode kerjasama waralaba. Untuk itu dalam membuat perjanjian waralaba, perlu dipikirkan secara detail apa saja poin-poin yang ingin diperjanjikan hingga konsekuensi dari setiap poin tersebut juga perlu dipertimbangkan secara matang sebelum dimasukkan ke dalam perjanjian waralaba.   Oleh karena itu, franchisor sebaiknya memahami kelebihan dan kekurangan bisnisnya. Hal-hal yang dianggap sebagai kelebihan dari bisnisnya tentu sebaiknya diproteksi dengan baik dalam perjanjian agar kelebihan/keunikan usahanya tidak ditiru oleh orang lain. Sedangkan hal-hal yang dirasa merupakan kekurangan dari bisnisnya juga perlu diproteksi agar mengurangi potensi konflik dengan franchisee dikemudian hari.   Berikut langkah sederhana yang dapat dilakukan ketika membuat perjanjian waralaba: Petakan kelebihan dan kelemahan bisnis Anda Dalam membuat perjanjian waralaba, ada baiknya kita menggali terlebih dahulu kelebihan bisnis Anda, agar bisa dilindungi dengan baik dalam perjanjian untuk menghindari kemungkinan untuk ditiru atau diakui oleh orang lain. Selain itu, kelebihan bisnis ini juga merupakan nilai tambah milik franchisor yang diajarkan, dipinjamkan dan dilatih kepada franchisee, sehingga penting bagi franchisor melindungi kelebihan bisnisnya dengan memasukkannya menjadi pasal dalam perjanjian waralaba. Selain kelebihan, tentu juga penting untuk menggali kekurangan bisnis Anda, tujuannya agar bisa memproteksi kemungkinan tuntutan dari franchisee dikemudian hari. Menyusun perjanjian standar Dalam membuat perjanjian waralaba, perlu untuk membuatnya menjadi format yang standar. Hal ini bertujuan agar seluruh franchisee akan mendapatkan format perjanjian yang sama. Perjanjian yang standar kepada seluruh franchisee akan memudahkan franchisor dalam mengelola franchise-nya, karena ketentuan, peraturan dan perlakuan yang diterima oleh satu franchisee, akan berlaku sama bagi seluruhnya. Kondisi ini akan sangat menguntungkan apabila nanti memiliki banyak franchisee diberbagai lokasi. Membuat susunan pasal yang lengkap dan jelas Dalam membuat perjanjian waralaba kita harus dapat menyusun poin-poin yang diperjanjikan dengan lengkap dan jelas. Hal ini bertujuan agar menghindari multi tafsir atau kesalahpahaman dengan franchisee. Untuk itu, tidak ada salahnya kita melakukan review perjanjian secara berkala agar poin-poin yang diperjanjikan selalu update dengan kondisi terkini dan memastikan tidak ada poin yang ambigu. Pastikan sistematika perjanjian urut Sistematika dalam perjanjian sebaiknya dibuat berurut agar mudah dipahami oleh franchisee, mengingat kita bisa bertemu franchisee dari berbagai latar belakang profesi dan Pendidikan. Apabila sistematika perjanjian dibuat rapi, tentunya akan memudahkan franchisor dalam menjelaskan setiap poin perjanjian kepada franchisee. Konsultasikan draft perjanjian yang Anda susun Ada baiknya draft perjanjian waralaba yang sudah disusun untuk dikonsultasikan kepada ahli hukum atau konsultan waralaba untuk mendapatkan saran dari professional di bidangnya.   Demikian sedikit tips ketika menyusun perjanjian waralaba. Satu lagi hal penting ketika menyusun perjanjian waralaba, hindari mencontoh perjanjian waralaba dari pihak lain untuk dijadikan draft perjanjian waralaba bisnis Anda. Karena keunikan, kelebihan serta kekurangan masing-masing bisnis tentu berbeda-beda. Perjanjian waralaba sebenarnya adalah tools bagi pemilik bisnis waralaba untuk melindungi keunikan bisnisnya atau memproteksi kekurangan bisnisnya, maka ketika Anda mencontoh draft perjanjian waralaba dari pihak lain, maka saat itu Anda sudah kehilangan keunikan atau bahkan kekurangan bisnis Anda tidak terproteksi dengan baik dalam perjanjian.   Semoga penjelasan di atas memberikan inspirasi buat Anda yang sedang menyusun perjanjian waralaba. Atau jika Anda masih kesulitan dalam menyusun perjanjian waralaba, Silahkan kontak saya di wahdifakhrozy@yahoo.com     Selamat Berbisnis!!   Salam,   Wahdi Fakhrozy THE FRANCHISE CONSULTANT wahdifakhrozy@yahoo.com   Menara 165 Office & Convention Center Jl.TB Simatupang Kav 1 Cilandak Timur Jakarta Selatan

Langkah Praktis Membuat Perjanjian Franchise Read More »

Franchise, Lisensi dan Business Opportunity, apa bedanya?

  Dalam menduplikasi usaha, umum dikenal beberapa istilah sebagai bentuk kerjasama dengan mitra. Istilah-istilah yang banyak dikenal adalah franchise, lisensi atau business opportunity (BO). Ketiga konsep kerjasama tersebut memiliki kesamaan, dimana status kepemilikan outlet yang dikerjasamakan merupakan milik mitra. Meskipun memiliki kesamaan, namun tentu ada perbedaan diantara ketiga konsep kerjasama ini. Perbedaan franchise, lisensi dan Business Opportunity dapat dilihat pada ilustrasi berikut:   Bila mengacu pada peraturan pemerintah tentang Waralaba, maka franchise atau waralaba diartikan sebagai hak khusus yang dimiliki oleh orang perseorangan atau badan usaha terhadap sistem bisnis dengan ciri khas usaha dalam rangka memasarkan barang dan/atau jasa yang telah terbukti berhasil dan dapat dimanfaatkan dan/atau digunakan oleh pihak lain berdasarkan perjanjian franchise. Dari pengertian tersebut dapat dipahami bahwa ada 2 hal yang akan dipinjamkan oleh franchisor kepada franchisee-nya yaitu Hak Kekayaan Intelektual (HAKI) dan Business Format. Sedangkan lisensi merupakan hak yang diberikan oleh licensor (pemberi lisensi) kepada licensee (penerima lisensi) untuk menggunakan hak kekayaan intelektualnya saja tanpa mengatur format bisnisnya. Biasanya lisensi ini tidak hanya terkait tentang komersialisasi saja. Namun yang pasti perjanjiannya mengikat antara licensor dengan licensee dalam hak peminjaman Hak Kekayaan Intelektual. Hak kekayaan intelektual sendiri terdiri dari beberapa jenis yaitu: Hak Cipta, Merek, Paten, Desain Tata Letak Sirkuit Terpadu (DTLST), Rahasia Dagang, Desain Industri, Indikasi Geografis. Lalu Business Opportunity (BO) merupakan kesempatan berusaha dengan menggunakan produk/alat/metode kerja dari pengusaha penjual paket BO. Dimana umumnya penerima BO akan diminta untuk membayar paket BO yang di dalamnya termasuk materi/barang dagangan untuk initial start-up serta mendapatkan pelatihan awal menjalankan usaha. Setelah itu penerima BO dapat menjalankan usahanya sendiri. Dari penjelasan singkat di atas dapat terlihat perbedaan dasar dari Franchise, Lisensi dan Business Opportunity (BO). Setiap pola kerjasama tentu memiliki kelebihan dan kekurangannya masing-masing, sehingga kembali kepada Anda sebagai pengusaha untuk menentukan pola kerjasama yang mana yang paling cocok diterapkan untuk bisnis Anda. Selamat menduplikasi usaha!! Salam, Wahdi Fakhrozy THE FRANCHISE CONSULTANT wahdifakhrozy@yahoo.com Franchise Academy Indonesia Menara 165 Office & Convention Center Jl.TB Simatupang Kav 1 Cilandak Timur Jakarta Selatan

Franchise, Lisensi dan Business Opportunity, apa bedanya? Read More »

PANDEMI BUKAN HALANGAN UNTUK MENDUPLIKASI USAHA

    Pandemi covid 19 yang datang ke Indonesia sejak Maret 2020 bukan hanya kasus di dunia kesehatan. Penyebaran virus yang begitu massif mengakibatkan perlunya penerapan protokol kesehatan yang ketat untuk mengurangi penularan. Penerapan protokol kesehatan ini tentunya bertujuan untuk mengurangi aktivitas masyarakat. Pengurangan aktivitas masyarakat pasti akan sangat mempengaruhi sektor bisnis. Bisnis yang sangat bergantung pada mobilitas masyarakat dan bergantung pada trafik pengunjung tentu akan merasakan dampak yang paling parah, karena bisnis-bisnis tersebut akan kehilangan marketnya.   Setelah setahun berlalu, pandemi di Indonesia memang belum hilang total. Tetapi masyarakat sudah mulai bisa beradaptasi. Aktifitas rutin mulai bisa dilakukan kembali dengan memperhatikan peraturan yang berlaku. Pergerakan masyarakat ini diharapkan dapat menggerakkan lagi sektor bisnis. Bisnis-bisnis yang sempat terhenti dan mengurangi kegiatan diharapkan dapat bergerak lagi, bahkan jika memungkinkan dapat berkembang.   Bicara tentang pengembangan bisnis, terutama mengenai duplikasi usaha. Sebenarnya hanya ada 3 cara duplikasi usaha berdasarkan status kepemilikan outlet yang diduplikasi. Cara yang dapat dilakukan adalah: Duplikasi usaha, namun outlet yang diduplikasi masih milik sendiri Cara duplikasi seperti ini sudah sangat umum terjadi dan banyak dilakukan oleh pebisnis. Biasanya disebut dengan buka cabang. Proses buka cabang tentu sangat mudah, karena hanya melibatkan sumber daya internal yang dimiliki oleh pebisnis itu sendiri. Sepanjang pebisnis tersebut melihat peluang mengembangkan usahanya, didukung dengan modal yang cukup serta lokasi usaha yang diminati masih available, maka buka cabang dapat dilakukan.   Duplikasi usaha, namun outlet yang diduplikasi milik Bersama dengan mitra Duplikasi dengan melibatkan mitra dengan status kepemilikan bersama merupakan salah satu alternatif pengembangan usaha yang dapat dipilih dengan alasan berbagi resiko usaha. Pebisnis yang memiliki brand dapat mengajak mitra untuk berbagi modal usaha atau tempat untuk menambah jumlah outletnya. Lalu di lokasi outlet yang diduplikasi tersebut disepakati siapa yang akan menjadi mitra aktif yang akan mengelola outlet tersebut dan siapa yang akan menjadi mitra pasif. Namun yang pasti status kepemilikan outlet tersebut adalah milik bersama. Sehingga segala keuntungan maupun resiko akan dibagi bersama. Konsep seperti ini biasanya disebut dengan joint venture.   Duplikasi usaha, namun outlet yang diduplikasi milik mitra Alternatif lain yang dapat dipilih ketika duplikasi usaha adalah dengan status kepemilikan outletnya adalah milik mitra. Jika outletnya milik mitra maka, ada 3 pola kerjasama lagi yang dapat diterapkan, yaitu franchise, lisensi dan business opportunity. (silahkan baca artikel Franchise, Lisensi dan Business Opportunity, apa bedanya?) Masing-masing pola kerjasama ada perbedaannya, ada baiknya kenali dulu kelebihan dan kelemahan dari tiap pola kerjasama agar dapat menguntungkan bagi kedua belah pihak yang mengadakan kerjasama.   Situasi pandemi seperti saat ini memang bukan situasi yang mudah, tapi kehidupan tetap harus berjalan. Kita harus tetap harus berkembang, sesuai dengan kemampuan yang kita miliki meskipun dengan keterbatasan yang ada.   Semoga penjelasan di atas dapat menjadi wawasan bagi Anda yang ingin menduplikasi usaha yang sedang dijalankan saat ini. Atau jika Anda berdiskusi tentang cara duplikasi usaha pada bisnis Anda saat ini, Silahkan kontak saya di wahdifakhrozy@yahoo.com   Selamat mengembangkan bisnis !!   Salam, Wahdi Fakhrozy THE FRANCHISE CONSULTANT wahdifakhrozy@yahoo.com Franchise Academy Indonesia Menara 165 Office & Convention Center Jl.TB Simatupang Kav 1 Cilandak Timur Jakarta Selatan

PANDEMI BUKAN HALANGAN UNTUK MENDUPLIKASI USAHA Read More »

Usaha Franchise – Inovasi = Kunci Usaha Franchise Tetap Unggul

Pada artikel lalu yang berjudul “Cara Agar Usaha Franchise Tidak Mudah Ditiru” telah dijelaskan bahwa salah satu cara agar usaha franchise tidak mudah ditiru oleh kompetitor atau bahkan dikhianati oleh franchisee sendiri adalah dengan berinovasi. Inovasi yang dimaksud disini adalah proses yang dilakukan secara terencana dan sistematis untuk memikirkan, merancang hingga membuat sesuatu yang baru baik itu dari sisi produk, pelayanan hingga sistem agar dapat menambah nilai atau manfaat dari produk atau jasa yang ditawarkan oleh model bisnis franchise Ada beberapa alasan sebuah perusahaan perlu memikirkan untuk berubah, yaitu: Berubah bukan karena yang lama ‘buruk’ atau’salah’ tetapi yang lama sudah tidak relevan, tidak kontekstual Berubah supaya tidak menjadi korban perubahan Berubah untuk ‘memegang kendali ‘ dalam proses perubahan Kalau perubahan di luar lebih cepat dari perubahan dalam perusahaan, perusahaan berada dalam bahaya. Berubah karena ada aspirasi baru Dari alasan-alasan yang disebutkan di atas terlihat bahwa berubah merupakan hal wajib yang dilakukan perusahaan agar dapat terus eksis dan memenangkan persaingan dengan kompetitor. Dalam franchising, pengembangan terhadap model bisnis merupakan kunci bagi franchisor agar dapat selalu unggul. Karena ketika sebuah usaha pertama kali menjual paket franchise-nya, maka saat itu jugalah perusahaan tersebut menciptakan kompetitor bagi dirinya. Kompetitor ini bisa berasal dari franchisee-nya sendiri yang kurang puas terhadap hubungan dengan franchisor lalu membuka usaha sejenis dengan brand  yang berbeda, atau dari kompetitor yang memang telah ada sebelumnya yang ikut menjual paket franchise juga. Jadi tidak ada pilihan lain, selain berinovasi dan selalu mengembangkan model bisnis agar selalu 10 langkah di depan kompetitor. Apabila ingin berdiskusi lebih banyak mengenai bisnis franchise dan tahapan memfranchisekan bisnis silahkan email ke wahdifakhrozy@franchiseorganizer.com Salam Franchise, Wahdi Fakhrozy wahdifakhrozy@franchiseorganizer.com International Franchise Business Management   Menara Kadin Indonesia Jl.HR Rasuna Said Kuningan Blok X – 5 Kav 2-3 Jakarta

Usaha Franchise – Inovasi = Kunci Usaha Franchise Tetap Unggul Read More »

Kiat Sukses Berbisnis Franchise : Tips Memilih Mitra Franchise

Pengembangan bisnis dengan bermitra dengan pihak lain memang memberikan banyak kelebihan. Terlebih dengan berbagai macam Alternatif pengembangan usaha selain franchise yang dapat dipilih tentu akan membuka lebih banyak peluang lagi. Namun dalam mencari mitra, tidak boleh sembarangan pilih. Kita tetap perlu berhati-hati agar tidak mendapat mitra yang kurang kooperatif. Bermitra dengan orang yang kurang kooperatif akan dapat membawa pengalaman buruk bagi franchisor. Ada beberapa hal yang perlu diperhatikan ketika memilih calon mitra yang ideal: Pilih mitra yang memiliki akses terhadap lokasi strategis Pilih mitra yang memiliki dana cukup Pilih mitra yang terampil dalam mengelola bisnis Pilih mitra yang memiliki jaringan pertemanan luas Pilih mitra yang serius dan berkomitmen tinggi Pilih mitra yang mau menuruti SOP dan tidak “ngeyel” Mendapatkan mitra yang ideal memang tidak mudah, tetapi ada cara untuk menyeleksi calon mitra yang ingin diterima. Pada dasarnya calon mitra yang berminat bergabung menjadi franchisee, dapat diseleksi dari 3 hal, yaitu : Karakternya, Kemampuan Teknisnya (Skill) dan Kemampuan keuangannya. Masing-masing hal ini, pernah dibahas pada artikel sebelumnya yang dapat dibaca di sini. Oleh karena itu, penting bagi franchisor untuk memiliki tahapan seleksi calon franchisee, tahapan seleksi calon franchisee ini dimulai dari tahapan promosi peluang franchise, hingga penandatanganan perjanjian franchise. Untuk melihat tahapan lengkap seleksi calon franchisee ini bisa dibaca pada RED MODULE Franchise Academy Indonesia. Semoga penjelasan di atas memberikan inspirasi buat Anda yang sedang kebingungan dalam memilih calon mitra franchisee. Atau jika Anda masih bingung untuk memilih calon mitra yang mana yang cocok dengan Anda, Silahkan kontak saya di wahdifakhrozy@ifbm.co.id Selamat Berbisnis!! Salam, Wahdi Fakhrozy THE FRANCHISE CONSULTANT wahdifakhrozy@franchiseacademy.co.id wahdifakhrozy@ifbm.co.id International Franchise Business Management Member of World Franchise Associate (WFA)   Menara Kadin Indonesia Jl.HR Rasuna Said Kuningan Blok X – 5 Kav 2-3 Jakarta

Kiat Sukses Berbisnis Franchise : Tips Memilih Mitra Franchise Read More »

Inovasi = Kunci Usaha Franchise Tetap Unggul

Pada beberapa artikel yang telah sebelumnya telah dijelaskan bahwa salah satu cara agar usaha franchise tidak mudah ditiru oleh kompetitor atau bahkan dikhianati oleh franchisee sendiri adalah dengan berinovasi. Inovasi yang dimaksud disini adalah proses yang dilakukan secara terencana dan sistematis untuk memikirkan, merancang hingga membuat sesuatu yang baru baik itu dari sisi produk, pelayanan hingga sistem agar dapat menambah nilai atau manfaat dari produk atau jasa yang ditawarkan oleh model bisnis franchise Ada beberapa alasan sebuah perusahaan perlu memikirkan untuk berubah, yaitu: Berubah bukan karena yang lama ‘buruk’ atau’salah’ tetapi yang lama sudah tidak relevan, tidak kontekstual Berubah supaya tidak menjadi korban perubahan Berubah untuk ‘memegang kendali ‘ dalam proses perubahan Kalau perubahan di luar lebih cepat dari perubahan dalam perusahaan, perusahaan berada dalam bahaya. Berubah karena ada aspirasi baru Dari alasan-alasan yang disebutkan di atas terlihat bahwa berubah merupakan hal wajib yang dilakukan perusahaan agar dapat terus eksis dan memenangkan persaingan dengan kompetitor. Dalam franchising, pengembangan terhadap model bisnis merupakan kunci bagi franchisor agar dapat selalu unggul. Karena ketika sebuah usaha pertama kali menjual paket franchise-nya, maka saat itu jugalah perusahaan tersebut menciptakan kompetitor bagi dirinya. Kompetitor ini bisa berasal dari franchisee-nya sendiri yang kurang puas terhadap hubungan dengan franchisor lalu membuka usaha sejenis dengan brand  yang berbeda, atau dari kompetitor yang memang telah ada sebelumnya yang ikut menjual paket franchise juga. Jadi tidak ada pilihan lain, selain berinovasi dan selalu mengembangkan model bisnis agar selalu 10 langkah di depan kompetitor. Apabila ingin berdiskusi lebih banyak mengenai bisnis franchise dan tahapan memfranchisekan bisnis silahkan email ke franchiseacademyindonesia@gmail.com Salam Franchise,   Wahdi Fakhrozy wahdifakhrozy@franchiseacademy.co.id Franchise Academy Indonesia Wisma Iskandarsyah A 10 Jl.Iskandarsyah Raya Kav.12-14 Jakarta 12160

Inovasi = Kunci Usaha Franchise Tetap Unggul Read More »

Mencari Mitra Franchisee Yang Kooperatif

Jika kita memfranchisekan usaha kita, siapakah mitra franchisee (penerima waralaba) yang paling Ideal. Tentunya kriteria yang paling ideal urutannya: Orang yang mau mengikuti SOP dan tidak “ngeyel” bila diberikan pengarahan Punya lokasi yang strategis Punya dana yg cukup Terampil dalam menjalankan dan mengelola bisnis kita Punya kenalan yang banyak, pandai networking Giat memasarkan bisnisnya. Waahh.. bagaimana bisa mendapatkan mitra franchisee yang ideal tersebut? Apakah ada mitra franchisee yang seperti itu?   Yang pertama, kita perlu mempunyai mekanisme mencari franchisee sesuai yg kita inginkan. Istilah sy adalah “Merekrut Franchisee”. Kita cantumkan kriteria franchisee ideal kita tersebut saat menawarkan peluang bisnis franchise kita.   Yang kedua, kita buat proses seleksi yang halus untuk mengetahui Tiga Hal dari calon franchisee kita: Karakternya Kemampuan teknisnya (skill) Kemampuan dananya Caranya: ada di Blue module FranchiseAcademy.co.idArtinya, kita perlu memilih dan menyeleksi calon franchisee kita.   Yang ketiga, (ini penting!) Mitra Franchisee yg sudah terseleksi perlu dilengkapi dengan pelatihan yang intensif supaya mereka benar2 teredukasi untuk selalu percaya dan mengikuti sistem usaha franchise kita.   Untuk mendukung terwujudnya mitra franchisee yg kooperatif (nurut – mengikuti sistem), ada beberapa hal yg perlu diperhatikan: Proses bisnis kita sebaiknya tidak terlalu rumit Perlu ada program pelatihan yang efektif dan berkesinambungan (continue – tdk hanya sekali training yg cuma sebentar) Mungkin… mungkin.. mungkin.. ada beberapa profesi calon franchise yang tidak diprioritaskan untuk dipilih jadi mitra, karena karakter profesinya sudah biasa “ngeyel”. Sulit menerima pengarahan, tidak mudah nurut, dan punya kuasa lebih besar dari kewenangan franchisor (pemberi waralaba)            Burang Riyadi          Franchise Academy Indonesia

Mencari Mitra Franchisee Yang Kooperatif Read More »