Green Module

Proses Mastery Bisnis

Definisi Mastery Bisnis

Mastery bisnis adalah tahap awal dari calon Franchisor/Pemberi Waralaba dalam mempersiapkan waralaba usahanya. Definisi ‘mastery bisnis’ adalah bahwa pemberi waralaba telah memiliki pengetahuan yang cukup dan pemahaman yang mendalam mengenai dasar-dasar pengelolaan bisnis serta kiat-kiat jitu untuk membuat bisnis yang akan dimitrakan tersebut dapat berjalan dengan sukses. Hal ini berkaitan erat dengan kriteria “telah terbukti menguntungkan” yang diatur pemerintah dalam kebijakan waralaba. Proses menggali mastery bisnis ini diharapkan pemberi waralaba dapat mengetahui persis mengapa usaha yang dijalankan dapat terbukti sukses dalam rangka memberikan bimbingan kepada para penerima waralabanya.

Indikator utama bahwa pemberi waralaba telah mencapai mastery bisnis adalah ketika pemberi waralaba menguasai semua hal yang terjadi dalam bisnisnya serta dapat mengajarkan pengalamannya tersebut kepada penerima waralaba dalam bentuk training maupun panduan usaha tertulis. Pelaku usaha yang telah sukses menjalankan bisnisnya belum tentu telah mastery, karena tidak jarang ditemukan bahwa usaha yang sukses tersebut berjalan dengan sendirinya tanpa diketahui faktor-faktor penyebabnya. Padahal, penting bagi para pelaku usaha untuk menggali lebih dalam dan mengetahui alasan mengapa bisnisnya dapat berjalan sukses. Proses mencari tahu inilah yang dikatakan sebagai proses mastery bisnis. Setelah memahami faktor sukses bisnisnya, maka proses menjadi sukses inilah yang disebut pengalaman (mastery) yang nantinya dapat diajarkan kepada penerima waralaba.

Mastery bisnis dapat dipersiapkan dengan mengumpulkan dan mempelajari teori-teori bisnis dari beragam literatur resmi dan umum, serta berdasarkan pengalaman-pengalaman bisnis dari pemberi waralaba yang telah diuji dan distandardisasi.

Sesungguhnya, ada cukup banyak materi yang perlu dipelajari oleh pemberi waralaba dalam upaya meningkatkan pengetahuan dan keterampilan sebagai pemimpin bisnis, baik untuk meningkatkan soft skill maupun hard skill. Pemberi waralaba perlu memahami berbagai disiplin ilmu yang berkaitan dengan keterampilan bisnis dan juga teknis operasional usahanya. Misalnya, pemberi waralaba perlu memahami dasar-dasar berbisnis, seperti:

  1. Pengelolaan Waralaba;
  2. Pengelolaan Pemasaran, termasuk pemahaman mengenai Target Pasar dan teknik meningkatkan Brand/Merek/Citra perusahaan;
  3. Pengelolaan Bisnis dan Organisasi, termasuk strategi bisnis;
  4. Pengelolaan Keuangan;
  5. Trend Bisnis;
  6. Serta hal-hal penguasaan bisnis lainnya, seperti: perizinan usaha, aspek legal, sumber daya manusia, perpajakan, monitoring bisnis, dan sebagainya.

Di samping itu, pemberi waralaba juga perlu memahami soft skill yang mungkin diperlukan oleh para penerima waralabanya dalam menjalankan bisnis waralaba mereka, seperti:

  1. Motivasi bisnis;
  2. Pengelolaan hubungan kerja;
  3. Leadership;
  4. Salesmanship;
  5. Service excellence, dan lainnya.

Berikut ini adalah beberapa ulasan materi yang umum diperlukan oleh pemberi waralaba dalam mengawali persiapan waralaba usahanya. Materi-materi tersebut dapat dikembangkan lebih lanjut oleh lembaga-lembaga pendidikan tinggi yang menggunakan modul waralaba ini sesuai dengan kurikulumnya masing-masing.

 

Pemahaman Waralaba

Waralaba adalah upaya membuat jaringan usaha dengan menduplikasi bisnis yang sudah sukses untuk dimiliki dan dijalankan oleh orang lain.

Dalam peraturan waralaba di Indonesia yang termuat dalam PP no 35 tahun 2024 tentang waralaba dicantumkan bahwa: “Waralaba adalah hak khusus yang dimiliki oleh orang perseorangan atau badan usaha terhadap sistem bisnis dengan kriteria yang telah ditetapkan dalam rangka memasarkan barang dan/atau jasa yang telah terbukti berhasil dan dapat dimanfaatkan dan/atau digunakan oleh pihak lain berdasarkan Perjanjian Waralaba.”

Pendekatan pada pelaksanaannya, waralaba adalah proses melakukan duplikasi usaha saat usaha tersebut telah dijalankan oleh orang/pihak lain.

Kata “franchise” berasal dari bahasa Prancis Lama “franc/franche” yang berarti “free” dalam bahasa Inggris. Pada masa lampau di Kerajaan Prancis, ada individu/kelompok tertentu yang diberikan hak (right) dan keistimewaan (privilege) oleh Raja-Raja Prancis untuk mewakili mereka melakukan fungsi publik, misalnya: menghadiri acara tertentu, melakukan kunjungan ke daerah tertentu,  melakukan lobi politik, menerima upeti/hadiah, memungut pembayaran pajak, dan lain-lain.

Individu/kelompok yang memiliki hak dan keistimewaan ini, kemudian menjadi pihak yang sampai tingkat tertentu memiliki kebebasan dan kemandirian relatif terhadap raja. Mereka adalah kelompok kaum bangsawan, pemimpin agama, jenderal, perdana menteri, konsul, dan sejenisnya.

Kata “franchise” digunakan untuk menyebut hak dan keistimewaan yang diberikan. “franchising” kemudian dimasukkan dalam kosa kata bahasa Inggris untuk menunjukkan strategi pemberian hak dan keistimewaan kepada individu/kelompok tertentu. Ditinjau dari aspek ekonomi modern, franchising dianggap merupakan pemberian hak dan keistimewaan kepada perusahaan tertentu untuk mengoperasikan bisnis sesuai peraturan/ persyaratan yang ditentukan pemilik franchise. Sehingga secara sederhana franchising dapat dipahami sebagai proses pemberian hak yang dilandasi perjanjian hukum dimana pemilik (pemberi waralaba) setuju untuk memberikan hak dan keistimewaan (license) kepada individu/ perusahaan tertentu (penerima waralaba) untuk menjual produk dan atau jasa kepada pihak lain sesuai dengan peraturan/persyaratan/proses dan pengelolaan usaha yang ditentukan pemilik.

Franchising menurut the International Franchise Association adalah: ”a continuing relationship in which the franchisor provides a licensed privilege to do business, plus assistance in organizing, training, merchandising, and management in return for a consideration from the franchisee.” (”hubungan berkesinambungan di mana pemberi waralaba memberikan hak penggunaan untuk mengerjakan usaha, serta bantuan pengaturan, pelatihan, barang dagangan, dan pengelolaan sebagai timbal balik dari yang diberikan oleh penerima waralaba”).

 

Keuntungan dan Kelemahan Waralaba

Menjalankan usaha waralaba memberikan banyak keuntungan bagi pemberi waralabanya, antara lain:

  • Pemberi waralaba dapat mengembangkan mereknya dengan lebih cepat dan meluas melalui investasi yang dilakukan oleh para mitra penerima waralabanya.
  • Pemberi waralaba juga mendapatkan keuntungan karena dapat melakukan penetrasi pasar atas produk/jasa yang ditawarkan  dengan cepat dan menyebar melalui gerai para mitra penerima waralabanya.
  • Semakin besar jaringan usaha dan semakin banyak mitra penerima waralaba yang dimiliki, sehingga akan memberikan daya tawar yang tinggi kepada para pemasoknya.
  • Pemberi waralaba juga tidak perlu mempersiapkan organisasi yang besar untuk mengelola gerainya karena pengelolaan gerai dilakukan oleh para penerima waralaba yang juga memiliki para pegawainya sendiri.
  • Pemberi waralaba hanya perlu melakukan pengelolaan mendukung para penerima waralabanya agar sukses, dan dia akan menerima passive income dari royalty fee yang dibayarkan para mitra penerima waralabanya.

Beberapa kelemahan dari waralaba umumnya datang dari prosesnya yang birokratis. Untuk menjaga standar yang perlu diterapkan oleh seluruh jaringan gerainya, maka setiap kebijakan baru dari usahanya perlu dilakukan dengan prosedur yang baku. Pemberi waralaba juga tidak bisa terlalu fleksibel dalam melakukan pengaturan dan penyesuaian pada setiap gerainya, karena masing-masing gerai dimiliki dan dioperasikan oleh para penerima waralaba. Pada umumnya kekakuan seperti ini tidak disukai oleh para pengusaha yang selalu ingin dinamis, inovatif, dan cepat dalam melakukan manuver-manuver bisnis untuk menanggapi peluang pasar.

Pengelolaan Pemasaran

Pemberi waralaba perlu memiliki wawasan yang luas mengenai pengelolaan pemasaran yang bersifat global. Pemahaman manajemen pemasaran akan membantu para penerima waralaba yang awam akan bisnis dan menggantungkan program-program pemasarannya pada pemberi waralaba.

Manajemen Pemasaran adalah penganalisisan, perencanaan, pelaksanaan, dan pengawasan program-program yang bertujuan menimbulkan pertukaran dengan pasar yang dituju dengan maksud untuk mencapai tujuan perusahaan (Kotler, 1980).

Pada umumnya kegiatan pemasaran terdiri dari:

  1. Promosi
  2. Penjualan

Promosi adalah kegiatan meningkatkan perhatian (awareness) terhadap produk/jasa atau informasi lainnya yang mengajak calon konsumen untuk membeli atau paling tidak, dapat tertanam di ingatan calon customer. Sedangkan Penjualan adalah kegiatan menawarkan barang/jasa yang mempunyai tujuan akhir agar konsumen melakukan transaksi pembelian.

Mengombinasikan kedua kegiatan ini, maka ada juga kegiatan yang disebut promosi penjualan yang memang merupakan kegiatan untuk meningkatkan perhatian konsumen terhadap produk/jasa yang ditawarkan, sekaligus memotivasi konsumen tersebut untuk langsung membeli produk/jasa yang ditawarkan.

Ada lagi kegiatan lain dalam pemasaran yang bertujuan untuk meningkatkan keterikatan konsumen terhadap produk/jasa atau bahkan bisnisnya, baik dalam upaya meningkatkan loyalitas maupun pengalaman, yaitu “Branding”.

Pada masa-masa awal pengorganisasian pemasaran, Branding menjadi bagian dari kegiatan promosi. Namun, dengan berkembangnya orientasi usaha terhadap pasar maka kegiatan branding menjadi tidak hanya sekedar bagian promosi, tetapi sudah menjadi kegiatan menyeluruh yang berorientasi kepada pengalaman (experience) konsumen terhadap barang/jasa dan bahkan keseluruhan bisnis tersebut.

Poin-poin penting dalam pemasaran antara lain:

  1. Penentuan target pasar
  2. Strategi pencapaian dan penguasaan target pasar

 

Pengelolaan Operasional Bisnis dan Administrasi

Situasi kompetisi dalam pengelolaan bisnis dapat diibaratkan terkancah dalam medan perang. Setiap pemilik bisnis perlu paham betul posisinya dalam “medan perang” bisnisnya. Dalam ilmu manajemen hal ini disebut ‘business positioning’. Memahami posisi bisnis terhadap kompetitor dan konsumennya menjadikan pengelola bisnis mampu menentukan strategi-strategi yang perlu dilakukan untuk memenangkan “perang” bisnisnya.

Posisi bisnis di kancah persaingan, antara lain:

  1. Posisi sebagai “pemimpin” pasar, dalam hal ini perusahaan tersebut paling unggul di industrinya (untuk suatu wilayah tertentu).
  2. Posisi sebagai “pengikut (follower)”, di mana perusahaan tersebut mungkin di urutan kedua atau ketiga, dan perlu mengejar posisinya menjadi yang pertama.
  3. Posisi “urutan bawah”, di mana usaha tersebut menikmati pasar yang kecil dan perjuangannya adalah mempertahankan konsumennya serta mencari-cari kesempatan mengambil pasar dari pesaing.

Ada dua strategi pemasaran dalam situasi berbisnis:

  1. Strategi Menyerang
  2. Strategi Bertahan

Secara umum, Strategi Menyerang dilakukan oleh follower dan urutan bawah. Follower tentunya akan lebih agresif untuk menyerang pemimpin pasar. Pengelolaan bisnis untuk posisi ini tentunya akan membutuhkan program-program yang sangat ampuh serta penanganan oleh tim yang profesional. Strategi ini juga akan memberikan perhatian yang khusus kepada proses-proses yang efisien.

Bagi yang di urutan bawah, strategi menyerang umumnya dilakukan dengan “gerilya” dan membuat serangan-serangan melambung. Dengan posisi seperti ini, perusahaan akan mencoba mengambil sedikit-sedikit pangsa pasar yang dimiliki oleh perusahaan di atasnya. Pengelolaan bisnis untuk usaha ini akan tetap menjaga efisiensinya dengan membuat program-program yang inovatif. Pemberi waralaba perlu memahami betul kiat-kiat pengelolaan bisnis, baik untuk pengelolaan organisasi bisnisnya maupun dalam upaya membantu para penerima waralabanya mengelola bisnisnya dan akhirnya memberikan kesuksesan bagi semua pihak.

Pengelolaan Keuangan

Sebagai pemberi waralaba, diperlukan pemahaman mendasar akan konsep-konsep keuangan dan akuntansi untuk menjadi kompetitif dalam mengelola bisnisnya. Di samping itu, pemberi waralaba juga berkepentingan memberikan nasihat dan bimbingan kepada para penerima waralabanya dalam pengelolaan keuangan yang efektif agar bisnis mereka bisa berjalan dengan efisien dan lancar. Semakin sukses para penerima waralabanya, maka akan semakin sukses pula bisnis dari pemberi waralabanya.

Hal-hal mengenai keuangan yang perlu dipahami oleh pemberi waralaba dan juga penerima waralaba dalam berbisnis, antara lain:

  1. Mengetahui istilah-istilah keuangan yang umum. Misalnya, apa itu ‘debit’ dan ‘kredit’ dalam pengelolaan keuangan. Atau istilah ‘aktiva’ yang berarti: sumber daya ekonomi yang dimiliki perusahaan, seperti tanah, mesin, peralatan, serta lainnya. Ada juga istilah ‘pasiva’ yang berarti: sumber daya yang harus dibayar oleh perusahaan, misalnya hutang perusahaan. Istilah ‘nilai buku/nilai pasar’ artinya nilai aktiva atau pasiva yang ada dalam laporan keuangan atau yang ada di pasaran.
  2. Membaca laporan keuangan yang terdiri dari arus kas (cashflow), laba/rugi (income statement atau profit & loss), serta neraca (balance sheet). Laporan arus kas adalah alat bantu yang digunakan perusahaan untuk mengatur dana yang nyata. Laporan arus kas pada periode tertentu menginformasikan jumlah uang yang ada pada kas pada periode tersebut (kas bank dan termasuk wadah penyimpanan kas lainnya). Namun, surplus pendapatan di laporan laba/rugi belum tentu ada uang tunainya di kas, hal ini disebabkan bahwa laporan laba/rugi hanya merupakan perhitungan ‘pengakuan saja’ atau yang biasa disebut ‘akrual’. Dalam laba/rugi akan memperhitungkan pengakuan jumlah uang yang mungkin belum diterima (misalnya: hasil penjualan dengan cara pembayaran diangsur). Bisa juga angka pengeluaran yang hanya ‘diakui’ tetapi tidak benar-benar dikeluarkan uangnya (misalnya: biaya depresiasi atau amortisasi). Neraca usaha digunakan untuk melihat status perusahaan yang menunjukan berapa besar kekayaan perusahaan dan berapa besar kewajiban-kewajiban perusahaan pada periode tertentu. Catatan mengenai harta perusahaan, seperti tanah, peralatan, uang tunai, piutang dan lainnya terlihat pada neraca untuk satu periode tertentu. Demikian juga besarnya kewajiban-kewajiban perusahaan, seperti hutang dan pembayaran-pembayaran yang belum jatuh tempo. Neraca memberikan gambaran kondisi keuangan perusahaan pada waktu tertentu.
  3. Memperhitungkan rasio-rasio keuangan untuk melakukan analisis dalam rangka mengetahui ‘kesehatan’ sebuah usaha. Misalnya, dalam sebuah usaha sering kali menganalisis tingkat kemampuan usaha tersebut dalam membayar kewajiban-kewajibannya, yaitu melihat perbandingan antara aktiva lancarnya (uang tunai serta harta-harta yang likuid lainnya) dibandingkan dengan jumlah hutang-hutang perusahaan yang jangka pendek. Biasanya analisis ini disebut Quick Ratio atau Rasio Cepat. Ada beberapa analisis lain yang dilakukan dengan perbandingan atau rasio-rasio dari angka-angka dalam neraca.
  4. Memahami standar industri, misalnya untuk melihat apakah tingkat keuntungan yang didapatkan pada sebuah bisnis sudah cukup menarik menurut industrinya. Sebuah usaha restoran yang memiliki laba kotor sebesar 50% ternyata mungkin masih terlalu kecil bagi standar industrinya yang rata-rata memiliki laba kotor sebesar 65%.

Beberapa hal yang kerap sulit untuk dipahami oleh orang awam atau yang tidak mahir soal keuangan adalah memahami tentang metode penyusutan (depresiasi atau amortisasi). Pemberi waralaba, sekalipun bukan orang yang mahir tentang keuangan, pasti akan dituntut untuk dapat menjelaskan kepada para penerima waralabanya perihal dasar keuangan.

Penutup

Materi pembelajaran yang tertera dalam Green Module ini adalah materi pembelajaran tahap pertama dari lima modul Franchise Academy Indonesia. Untuk mendapatkan pemahaman yang komprehensif mengenai franchising, akademisi Franchise Academy Indonesia perlu mempelajari seluruh modul materi.

atau IKUTI Pelatihan Waralaba Kami
  1. Promosi
  2. Penjualan

Promosi adalah kegiatan meningkatkan perhatian (awareness) terhadap produk/jasa atau informasi lainnya yang mengajak calon konsumen untuk membeli atau paling tidak, dapat tertanam di ingatan calon customer. Sedangkan Penjualan adalah kegiatan menawarkan barang/jasa yang mempunyai tujuan akhir agar konsumen melakukan transaksi pembelian.

Mengombinasikan kedua kegiatan ini, maka ada juga kegiatan yang disebut promosi penjualan yang memang merupakan kegiatan untuk meningkatkan perhatian konsumen terhadap produk/jasa yang ditawarkan, sekaligus memotivasi konsumen tersebut untuk langsung membeli produk/jasa yang ditawarkan.

Ada lagi kegiatan lain dalam pemasaran yang bertujuan untuk meningkatkan keterikatan konsumen terhadap produk/jasa atau bahkan bisnisnya, baik dalam upaya meningkatkan loyalitas maupun pengalaman, yaitu “Branding”.

Pada masa-masa awal pengorganisasian pemasaran, Branding menjadi bagian dari kegiatan promosi. Namun, dengan berkembangnya orientasi usaha terhadap pasar maka kegiatan branding menjadi tidak hanya sekedar bagian promosi, tetapi sudah menjadi kegiatan menyeluruh yang berorientasi kepada pengalaman (experience) konsumen terhadap barang/jasa dan bahkan keseluruhan bisnis tersebut.

Poin-poin penting dalam pemasaran antara lain:

  1. Penentuan target pasar
  2. Strategi pencapaian dan penguasaan target pasar

 

Pengelolaan Operasional Bisnis dan Administrasi

Situasi kompetisi dalam pengelolaan bisnis dapat diibaratkan terkancah dalam medan perang. Setiap pemilik bisnis perlu paham betul posisinya dalam “medan perang” bisnisnya. Dalam ilmu manajemen hal ini disebut ‘business positioning’. Memahami posisi bisnis terhadap kompetitor dan konsumennya menjadikan pengelola bisnis mampu menentukan strategi-strategi yang perlu dilakukan untuk memenangkan “perang” bisnisnya.

Posisi bisnis di kancah persaingan, antara lain:

  1. Posisi sebagai “pemimpin” pasar, dalam hal ini perusahaan tersebut paling unggul di industrinya (untuk suatu wilayah tertentu).
  2. Posisi sebagai “pengikut (follower)”, di mana perusahaan tersebut mungkin di urutan kedua atau ketiga, dan perlu mengejar posisinya menjadi yang pertama.
  3. Posisi “urutan bawah”, di mana usaha tersebut menikmati pasar yang kecil dan perjuangannya adalah mempertahankan konsumennya serta mencari-cari kesempatan mengambil pasar dari pesaing.

Ada dua strategi pemasaran dalam situasi berbisnis:

  1. Strategi Menyerang
  2. Strategi Bertahan

Secara umum, Strategi Menyerang dilakukan oleh follower dan urutan bawah. Follower tentunya akan lebih agresif untuk menyerang pemimpin pasar. Pengelolaan bisnis untuk posisi ini tentunya akan membutuhkan program-program yang sangat ampuh serta penanganan oleh tim yang profesional. Strategi ini juga akan memberikan perhatian yang khusus kepada proses-proses yang efisien.

Bagi yang di urutan bawah, strategi menyerang umumnya dilakukan dengan “gerilya” dan membuat serangan-serangan melambung. Dengan posisi seperti ini, perusahaan akan mencoba mengambil sedikit-sedikit pangsa pasar yang dimiliki oleh perusahaan di atasnya. Pengelolaan bisnis untuk usaha ini akan tetap menjaga efisiensinya dengan membuat program-program yang inovatif. Pemberi waralaba perlu memahami betul kiat-kiat pengelolaan bisnis, baik untuk pengelolaan organisasi bisnisnya maupun dalam upaya membantu para penerima waralabanya mengelola bisnisnya dan akhirnya memberikan kesuksesan bagi semua pihak.

Pengelolaan Keuangan

Sebagai pemberi waralaba, diperlukan pemahaman mendasar akan konsep-konsep keuangan dan akuntansi untuk menjadi kompetitif dalam mengelola bisnisnya. Di samping itu, pemberi waralaba juga berkepentingan memberikan nasihat dan bimbingan kepada para penerima waralabanya dalam pengelolaan keuangan yang efektif agar bisnis mereka bisa berjalan dengan efisien dan lancar. Semakin sukses para penerima waralabanya, maka akan semakin sukses pula bisnis dari pemberi waralabanya.

Hal-hal mengenai keuangan yang perlu dipahami oleh pemberi waralaba dan juga penerima waralaba dalam berbisnis, antara lain:

  1. Mengetahui istilah-istilah keuangan yang umum. Misalnya, apa itu ‘debit’ dan ‘kredit’ dalam pengelolaan keuangan. Atau istilah ‘aktiva’ yang berarti: sumber daya ekonomi yang dimiliki perusahaan, seperti tanah, mesin, peralatan, serta lainnya. Ada juga istilah ‘pasiva’ yang berarti: sumber daya yang harus dibayar oleh perusahaan, misalnya hutang perusahaan. Istilah ‘nilai buku/nilai pasar’ artinya nilai aktiva atau pasiva yang ada dalam laporan keuangan atau yang ada di pasaran.
  2. Membaca laporan keuangan yang terdiri dari arus kas (cashflow), laba/rugi (income statement atau profit & loss), serta neraca (balance sheet). Laporan arus kas adalah alat bantu yang digunakan perusahaan untuk mengatur dana yang nyata. Laporan arus kas pada periode tertentu menginformasikan jumlah uang yang ada pada kas pada periode tersebut (kas bank dan termasuk wadah penyimpanan kas lainnya). Namun, surplus pendapatan di laporan laba/rugi belum tentu ada uang tunainya di kas, hal ini disebabkan bahwa laporan laba/rugi hanya merupakan perhitungan ‘pengakuan saja’ atau yang biasa disebut ‘akrual’. Dalam laba/rugi akan memperhitungkan pengakuan jumlah uang yang mungkin belum diterima (misalnya: hasil penjualan dengan cara pembayaran diangsur). Bisa juga angka pengeluaran yang hanya ‘diakui’ tetapi tidak benar-benar dikeluarkan uangnya (misalnya: biaya depresiasi atau amortisasi). Neraca usaha digunakan untuk melihat status perusahaan yang menunjukan berapa besar kekayaan perusahaan dan berapa besar kewajiban-kewajiban perusahaan pada periode tertentu. Catatan mengenai harta perusahaan, seperti tanah, peralatan, uang tunai, piutang dan lainnya terlihat pada neraca untuk satu periode tertentu. Demikian juga besarnya kewajiban-kewajiban perusahaan, seperti hutang dan pembayaran-pembayaran yang belum jatuh tempo. Neraca memberikan gambaran kondisi keuangan perusahaan pada waktu tertentu.
  3. Memperhitungkan rasio-rasio keuangan untuk melakukan analisis dalam rangka mengetahui ‘kesehatan’ sebuah usaha. Misalnya, dalam sebuah usaha sering kali menganalisis tingkat kemampuan usaha tersebut dalam membayar kewajiban-kewajibannya, yaitu melihat perbandingan antara aktiva lancarnya (uang tunai serta harta-harta yang likuid lainnya) dibandingkan dengan jumlah hutang-hutang perusahaan yang jangka pendek. Biasanya analisis ini disebut Quick Ratio atau Rasio Cepat. Ada beberapa analisis lain yang dilakukan dengan perbandingan atau rasio-rasio dari angka-angka dalam neraca.
  4. Memahami standar industri, misalnya untuk melihat apakah tingkat keuntungan yang didapatkan pada sebuah bisnis sudah cukup menarik menurut industrinya. Sebuah usaha restoran yang memiliki laba kotor sebesar 50% ternyata mungkin masih terlalu kecil bagi standar industrinya yang rata-rata memiliki laba kotor sebesar 65%.

Beberapa hal yang kerap sulit untuk dipahami oleh orang awam atau yang tidak mahir soal keuangan adalah memahami tentang metode penyusutan (depresiasi atau amortisasi). Pemberi waralaba, sekalipun bukan orang yang mahir tentang keuangan, pasti akan dituntut untuk dapat menjelaskan kepada para penerima waralabanya perihal dasar keuangan.

Penutup

Materi pembelajaran yang tertera dalam Green Module ini adalah materi pembelajaran tahap pertama dari lima modul Franchise Academy Indonesia. Untuk mendapatkan pemahaman yang komprehensif mengenai franchising, akademisi Franchise Academy Indonesia perlu mempelajari seluruh modul materi.

atau IKUTI Pelatihan Waralaba Kami