Uncategorized

Bisnis Franchise – Cara Mempromosikan Produk

Pak Royandi,               Bagaimana cara mempromosikan produk franchise kita agar lebih dikenal luas. Promo seperti apa yang harus dilakukan. Terima kasih. DY, Jawa Tengah Jawab: Pak DY yang baik,   Dari pertanyaan anda saya asumsikan bahwa anda adalah seorang pemilik bisnis yang memasarkan bisnisnya secara franchising, atau lazim disebut sebagai Franchisor. Seperti umumnya hal pemasaran, maka dalam memasarkan apapun juga salah satu hal yang terpenting adalah siapa target market dan pemilik keputusannya (decision maker). Dalam memasarkan bisnis yang dipasarkan secara franchising, maka target market beserta decision maker-nya biasanya adalah orang yang sama, yaitu calon Franchisee. Maka setiap hal pemasaran yang dilakukan ditujukan untuk calon Franchisee, dimana brand menjadi tolok ukur utama. Bagaimana profil calon Franchisee? Biasanya mereka memiliki atau menguasai sumber dana yang cukup besar (sesuai dengan nilai bisnis yang dilirik) dan punya keinginan untuk memiliki bisnis. Yang menjadi masalah adalah bahwa dari seluruh calon Franchisee yang mencari bisnis, 70% hingga 80% dari padanya adalah tipe orang yang hanya ingin berinvestasi, atau dengan kata lain ingin mendapatkan penghasilan tambahan, sisanya adalah orang-orang yang benar-benar ingin melakukan bisnis. Pada dasarnya, franchising tidak cocok bagi orang yang hanya sekedar ingin berinvestasi, karena Franchisor yang sukses tahu bahwa yang dibutuhkan untuk menjalankan bisnis secara franchising adalah apa yang disebut dengan “Owner Operator”, yaitu orang mau menjalankan bisnis sendiri(banyak terlibat dalam operasi bisnis). Jarang ada Franchisor yang mampu mendesain bisnisnya untuk investor, karena berbisnis itu memerlukan hati (passion), perhatian, inisiatif dan atau tindakan.   Berdasarkan hal tersebut diatas, cara promosi produk franchise yang efektif dan efisien adalah dengan selalu mengikuti pameran khusus untuk franchise, membuat seminar khusus mengenai bisnis kita yang dipasarkan secara franchising, membangun situs bisnis kita dengan halaman khusus mengenai franchising (sebaiknya multi language), menjadikan bisnis kita “word of mouth” melalui media sosial dan testimoni, mempromosikan melalui media-media cetak yang panjang umurnya (majalah bulanan yang biasanya disimpan oleh pembacanya dan sesuai dengan strata ekonomi target pasarnya), outlet selalu bertambah (tumbuh terus), tidak ada/sedikit yang gagal dalam operasinya. Semua hal tersebut diatas akan menjadikan brand kita menjadi kuat dengan citra yang baik. Khusus mengenai pameran franchise, di Jakarta setiap tahunnya ada 2 pameran franchise yang besar sehingga disebut sebagai expo franchise. Peserta pameran berkisar antara 120 hingga 170 bisnis. Pengunjung yang datang mencapai 10.000 hingga 15.000 orang selama 3 hari masa pameran, semuanya membayar harga tiket masuk yang cukup besar. Dalam hal ini berarti bahwa mereka memang sungguh-sungguh datang untuk mencari bisnis. Bagi Franchisor hal tersebut dapat dianalogikan seperti berburu dalam kebon binatang. Dengan “rajinnya” kita mengikuti pameran ini, calon konsumen akan mengukuhkan kita sebagai pemain dalam “industri franchise”, dimana secara branding akan sangat menguntungkan posisi kita.   Menjual barang dan menjual bisnis walaupun sama pada dasarnya, tapi dalam franchising berbeda halnya. Persamaannya adalah pada transaksi keuangan yang terjadi. Bedanya adalah pada tata cara menawarkannya dan bahwa pembeli bisnis tersebut adalah orang yang dipilih oleh Franchisor. Jadi, dalam franchising bukanlah sekedar beli-jual (buy and sell) atau “barter”. Tidak sekedar orang punya uang ingin membeli bisnis, Franchisor memiliki bisnis untuk “dijual”, maka terjadilah transaksi. Tapi halnya adalah “orang terpilih yang dipercaya” untuk menjalankan bisnis yang sudah diduplikasi (acquired and granted).   Bagaimana dengan cara menawarkannya? Mayoritas calon Franchisee pada umumnya adalah orang yang belum pernah menjalankan bisnis, khususnya bisnis yang kita kelola. Sehingga cara menawarkannya adalah kepada hal-hal untuk membantu mereka dalam menjalankan bisnis tersebut. Untuk itu, tentunya kita harus benar-benar mastery dalam bisnis yang kita jalankan. Dalam Peraturan Pemerintah (PP no.42, tahun 2007, tentang Waralaba), bila kita ingin memasarkan bisnis kita melalui franchising, ditentukan bahwa pengalaman bisnis pada bisnis yang ingin dipasarkan secara franchising adalah lebih-kurang 5 tahun dengan kondisi sudah balik modal. Apa hal-hal yang dapat membantu calon Franchisee dalam menjalankan bisnis kita? Tentunya adalah pelatihan tentang menjalankan bisnis sesuai pengalaman sukses kita, bantuan-bantuan pemasaran atas brand kita, bantuan cara memasarkan produk dalam bisnis sesuai target market bisnis kita, bantuan pemilihan lokasi bisnis, tata cara menjalankan bisnis kita (berbentuk dokumen atau sering disebut sebagai Standard Operating Procedure – SOP), bantuan pemecahan masalah dalam operasi dan lain-lain yang merujuk pada entrepreneurship.   Bila hal-hal tersebut diatas benar-benar dijalankan oleh Franchisor, maka resiko kegagalan akan menurun dan keberhasilan akan menjadi lebih besar. Keberhasilan Franchisee dalam menjalankan bisnis dengan sistem franchise ini jauh lebih besar dari pada menjalankan usaha secara sendirian (tanpa bantuan Franchisor). Keberhasilan Franchisee dalam menjalankan bisnis yang telah diduplikasi ini akan berakibat baik bagi brand dari Franchisor serta akan memberikan testimoni-testimoni positif bagi bisnis Franchisor. Bagaimana agar Franchisor dapat menjalankan hal-hal tersebut diatas? Kunci keberhasilannya adalah pada desain organisasi Franchisor. Organisasi Franchisor ini harus dapat memenuhi hal-hal yang ditawarkan atau dijanjiakan kepada Franchisee, terutama dalam hal membantu (support) kelancaran operasi bisnis yang dijalankan Franchisee.   Selamat berbisnis. Ir.Royandi Yunus.MBA

Bisnis Franchise – Cara Mempromosikan Produk Read More »

Usaha Franchise – Memilih Usaha Franchise

Pak Royandi, Menurut bapak mana yang yang harus saya pilih antara franchise kuliner dengan franchise laundry? Karena menurut saya keduanya sangat menarik dan memiliki prospek yang bagus. Mohon sarannya pak. Terima kasih. L, Jakarta Timur   Jawab:   Ibu L yang baik,   Bila anda meminta saya memilihkan, maka saya akan memilihkan bisnis pendidikan. Kenapa pendidikan? Karena minat saya adalah pada bidang pendidikan dan saya akan dapat bercerita banyak tentang bisnis pendidikan. Tapi jangan anda percaya dan turuti pilihan saya, karena itu bukan minat anda. Pertama-tama, anda sebaiknya memilih bisnis yang sesuai dengan minat anda dimana tentunya akan lebih banyak menguasai bidang tersebut. Hal kedua adalah siapa Franchisor yang anda pilih. Apakah Franchisor tersebut dapat menutup kekurangan anda serta membantu anda menguasai operasional bisnis tersebut. Apakah Franchisor tersebut sudah mempunyai program-program untuk membantu kita menjalankan bisnis tersebut? Kalaupun anda tidak/belum menguasai bisnis tersebut, tetapi karena memang mempunyai minat pada bidang itu, dengan bantuan pelatihan dan monitoring dari Franchisor, maka akan sangat mudahlah kita untuk belajar memahaminya. Pada kenyataannya, bekerja atau belajar pada bidang yang kita minati akan jauh terasa lebih ringan bebannya dibandingkan dengan melakukan sesuatu pekerjaan yang tidak sesuai dengan minat kita. Semua masalah akan kita pandang sebagai tantangan dan hal yang menarik untuk dipecahkan. Bila ternyata minat anda memang pada bidang kuliner dan atau laundry, maka saya hanya dapat membagi saran atas dasar pengalaman teman-teman Franchisor dan Franchisee yang mempunyai minat sama dengan anda.   Dalam menjalankan bisnis, walaupun resikonya tidak sebesar seperti menjalankan usaha sendiri karena memakai sistem franchise, tetap memerlukan perhatian, pikiran dan kerja keras. Saya tidak tahu apakah anda sudah berkeluarga atau belum. Bila belum berkeluarga, tentunya akan lebih banyak waktu yang bisa dicurahkan pada bisnis tersebut dibandingkan bila sudah berkeluarga, sehingga untuk mengambil bidang mana yang akan dipilih hanya tinggal memilih mana yang paling menyenangkan. Bila sudah berkeluarga, maka akan berkurang waktu yang dimiliki untuk mengelola bisnis tersebut. Nah disinilah baru diperlukan pemilihan atau seleksi secara lebih terukur kepada kedua bidang yang sama-sama diminati tersebut. Yang perlu anda pertimbangkan adalah antara memenuhi kegiatan rutin sehari-hari versus mengelola bisnis. Anda perlu mengatur pembagian waktunya dan pilihlah waktu yang paling baik untuk tetap dapat berkontribusi di keluarga. Pilihlah bisnis yang banyak memberi anda dapat tetap bersentuhan dengan keluarga. Anda perlu sebuah team work di keluarga dan sebuah team work lain di bisnis yang anda jalankan.   Sebagai contoh, coba anda bayangkan, bila anda ambil bidang kuliner, maka anda dapat memindahkan arisan anda ketempat anda bekerja. Bila anda ambil bidang laundry, anda dapat membujuk anggota arisan anda untuk mempercayakan cuciannya di tempat anda. Yang terakhir ini (laundry) mungkin anda melakukan arisan di rumah anda, artinya hal tersebut dilakukan sambil tetap berdekatan dengan keluarga tetapi tetap melakukan aktifitas pemasaran bisnis anda. Jadi sebenarnya bergantung kembali kepada kebutuhan anda, sehingga dapat dipertimbangkan porsi mana yang akan anda ambil lebih besar.   Sebelum memutuskan pilihan, hal utama yang perlu anda lakukan adalah mendapatkan persetujuan dari keluarga terdekat untuk menjadi bagian dari team work anda dan siap membantu anda, karena ternyata pada kenyataannya dalam menjalankan sebuah usaha, keluarga terdekat adalah sumber masalah terbesar bila mereka merasa ditinggalkan. Hal ini tidak cuma berlaku bagi wanita saja, tetapi juga berlaku bagi pria, hal mana memerlukan persetujuan dari pasangannya atau dari keluarganya. Komitmen mereka akan dapat membuat anda tenang berbisnis.   Selamat memilih dan berbisnis.   Ir.Royandi Yunus.MBA    

Usaha Franchise – Memilih Usaha Franchise Read More »

Bisnis di era Global Market

2015 tinggal beberapa bulan lagi, dan Indonesia akan memenuhi komitmennya untuk bergabung menjadi salah satu komunitas Masyarakat Ekonomi Asean (MEA) atau juga disebut Asean Economic Community (AEC).   Sering kali para pebisnis melihat dan membahas tantangan yang akan dihadapi. Saya bertemu dengan Kepala Dinas Perdagangan beberapa daerah, dan sebagian mereka mengatakan bahwa jika perlu mereka akan menerapkan beberapa peraturan baru yang menghambat berperannya pebisnis global untuk masuk ke daerah mereka. Itu harus dilakukan karena mereka menyadari bahwa pebisnis lokal di daerah mereka dinilai tidak siap menghadapi era pasar bebas..   Ada pengalaman saat dibukanya China Asean Free Trade Area (CAFTA) waktu lalu, pasar kita dibanjiri produk dari Tiongkok yang menyebabkan produk2 buatan lokal tidak dapat bersaing (baik karena kualitas maupun harga). Akibatnya tidak sedikit produsen lokal kita yang gulung tikar. Lebih disesali lagi, produsen kita tidak segera beralih fungsi sebagai trader, sehingga trader dan distributor dipasar lokal juga dimainkan oleh pemain asing. Akhirnya Indonesia hanya sebagai konsumen saja..   Tulisan saya kali ini ingin mengingatkan juga sisi yang lain dari era pasar bebas ini. Bahwa selain menghadapi tantangan, kita juga akan menghadapi berbagai peluang.   Di era pasar bebas ini, sebenarnya membuka mata dunia “luar” juga akan potensi produk dan bisnis lokal kita untuk dikonsumsi secara global. Pebisnis luar negeri akan juga melihat banyak hal yang bagus dari produk dan bisnis lokal kita untuk dikembangkan dinegaranya atau negara lain.   Ini peluang bagi pebisnis lokal untuk export atau mengembangkan bisnisnya di luar negeri. Walaupun pasar di Indonesia besar, tetapi untuk beberapa bisnis lokal kita mempunyai potensi yang lebih besar dipasar international. Produk dan bisnis Indonesia mempunyai peluang yang besar di Timur Tengah, Indochina dan Tiongkok. Lebih jauh lagi (berdasarkan keterangan kedutaan besar Indonesia disana), produk dan bisnis Indonesia mempunyai peluang besar di Amerika Latin.   Untuk dapat  dengan cepat bisnis lokal kita bertahan dan berkembang di era globalisasi, kiatnya adalah piawai dalam melakukan networking. Data yang saya pelajari bahwa 82% perusahaan multinasional yang sukses melakukan ekspansi bisnisnya di luar negeri dengan melakukan networking (dengan berbagai bentuk). Menurut pendapat saya, mungkin bukan waktunya lagi mempunyai slogan “..tidak membuka cabang ditempat lain..”   Ada berapa cara untuk melakukan networking, antara lain dengan: joint venture, berasosiasi, licensing, dan franchising. Ada tips penting untuk melakukan networking, yaitu menyiapkan usaha kita untuk memenuhi standar Global terlebih dahulu (baik dari sisi kualitas, pengelolaan dan administrasi).   Untuk motivasi, melakukan pengembangan global berarti kita membantu pemerintahan untuk meningkatkan surplus perdagangan. Saat ini Indonesia sulit untuk meningkatkan expor tanpa meningkatkan produk dari industri dalam negeri. Dengan melakukan ekspansi global maka kita turut meningkatkan devisa negara.   Mari kita siapkan menyambut peluang de era Masyarakat Ekonomi ASEAN Desember 2015 mendatang.   Salam Franchise,     Burang Riyadi MBA     sumber: Konsultan Waralaba IFBM

Bisnis di era Global Market Read More »