Hubungi Kami : (021) 296 41453

Pengelolaan Keuangan

Pengelolaan Keuangan

Berikut adalah Lanjutan materi Belajar Green Module yang membahas mengenai pengelolaan keuangan sebagai bagian dari Mastery Bisnis yang perlu dimiliki oleh Franchisor

PENGELOLAAN KEUANGAN

Sebagai pemberi waralaba diperlukan pemahaman mendasar akan konsep-konsep keuangan dan akuntansi untuk menjadi kompetitif dalam mengelola bisnisnya. Disamping itu pemberi waralaba juga berkepentingan memberikan nasehat dan bimbingan kepada para penerima waralabanya dalam pengelolaan keuangan yang efektif agar bisnis mereka bisa berjalan dengan efisien serta lancar. Semakin sukses para penerima waralabanya, maka akan semakin sukses pula bisnis dari pemberi waralabanya.

 

Hal-hal mengenai keuangan yang perlu dipahami oleh pemberi waralaba dan juga penerima waralaba dalam berbisnis, antara lain:

  • Mengetahui mengenai ‘istilah-istilah’ keuangan yang umum. Misalnya saja, apa itu ‘debet’ dan ‘kredit’ dalam pengelolaan keuangan.

 

Atau istilah ‘aktiva’: yang maksudnya adalah sumberdaya ekonomi yang dimiliki perusahaan.

 

misalnya: tanah, mesin, peralatan serta lainnya. Dan istilah ‘pasiva’: yang maksudnya adalah sumber daya yang harus dibayar oleh perusahaan, misalnya hutang perusahaan.

 

Istilah ‘nilai buku/ nilai pasar’, yaitu nilai aktiva atau pasiva yang ada dalam laporan keuangan, atau yang ada dipasaran.

 

  • Membaca laporan keuangan yang terdiri dari arus kas (cashflow), laba/rugi (income statement atau profit & loss), serta neraca (balance sheet).

 

Laporan arus kas adalah alat bantu yang digunakan perusahaan untuk mengatur dana yang nyata. Laporan arus kas pada periode tertentu menginformasikan jumlah uang yang ada pada kas pada periode tersebut (baik kas bank dan termasuk wadah penyimpanan kas lainnya). Tetapi surplus pendapatan di laporan laba/rugi belum tentu ada uang tunainya di kas, hal ini disebabkan bahwa laporan laba/rugi hanya merupakan perhitungan ‘pengakuan saja’ atau yang biasa disebut ‘akrual’.

 

Dalam laba/rugi akan memperhitungkan pengakuan jumlah uang yang mungkin belum diterima (misalnya: hasil penjualan dengan cara pembayaran diangsur). Atau juga angka pengeluaran yang hanya ‘diakui’ tetapi tidak benar-benar dikeluarkan uangnya (misalnya: biaya depresiasi atau amortisasi).

 

Neraca usaha digunakan untuk melihat status perusahaan yang menunjukan berapa besar kekayaan perusahaan dan berapa besar kewajiban-kewajiban perusahaan pada periode tertentu. Catatan mengenai harta perusahaan, seperti: tanah, peralatan, uang tunai, piutang dan lainnya terlihat pada neraca untuk satu periode tertentu. Demikian juga besarnya kewajiban-kewajiban perusahaan, seperti: hutang dan pembayaran-pembayaran yang belum jatuh tempo. Neraca memberikan gambaran kondisi keuangan perusahaan pada waktu tertentu.

 

  • Memperhitungkan rasio-rasio keuangan untuk melakukan analisa dalam rangka mengetahui ‘kesehatan’ sebuah usaha.

 

Misalnya saja, dalam sebuah usaha seringkali dianalisa tingkat kemampuan usaha tersebut dalam membayar kewajiban-kewajibannya, yaitu melihat perbandingan antara aktiva lancarnya (uang tunai, serta harta-harta yang likuid lainnya) dibandingkan dengan jumlah hutang-hutang perusahaan yang jangka pendek. Biasanya analisa ini disebut Quick Ratio atau analisa cepat. Ada beberapa analisa lain yang dilakukan dengan perbandingan atau rasio-rasio dari angka-angka dalam neraca.

 

  • Memahami standar industri, misalnya untuk melihat apakah tingkat keuntungan yang didapatkan pada sebuah bisnis sudah cukup menarik menurut industrinya. Sebuah usaha restoran yang memiliki laba kotor sebesar 50% ternyata mungkin masih terlalu kecil bagi standar industrinya yang rata-rata memiliki laba kotor sebesar 65%.

 

Beberapa hal yang kerap sulit untuk dipahami oleh orang awam yang bukan orang yang mahir keuangan adalah memahami tentang metoda penyusutan (baik itu depresiasi maupun amortisasi). Pemberi waralaba, sekalipun bukan orang yang mahir tentang keuangan, pasti akan dituntut juga untuk dapat menjelaskan kepada para penerima waralabanya.

Pada Materi berikutnya akan dijelaskan beberapa ulasan materi mengenai STANDARISASI MODEL BISNIS (BLUE MODULE). yang perlu dipahami oleh franchisor ketika menduplikasi usahanya sebagai bagian dari proses mewaralabakan usaha.