Hubungi Kami : (021) 296 41453

Kajian Kelayakan Waralaba

Kajian Kelayakan Waralaba

Berikut adalah lanjutan materi Belajar Blue Module yang membahas mengenai Kajian Kelayakan Waralaba yaitu kajian secara kualitatif dan kuantitatif terhadap model bisnis yang ingin diduplikasi dengan sistem waralaba, serta kajian terhadap kelayakan franchisor untuk menjadi perusahaan franchise.

 

 

KAJIAN KELAYAKAN WARALABA

 

Kajian kelayakan waralaba adalah kajian yang memperhitungkan potensi sebuah model bisnis yang sudah berjalan sukses untuk dikembangkan dengan cara duplikasi secara waralaba. Kajian ini memperhitungkan:

 

  1. Kelayakanan model bisnis tersebut secara mandiri, yang diukur baik secara kuantitatif maupun kualitatif. Secara kualitatif juga perlu dilihat rasio bisnisnya, baik untuk tingkat pengembalian modal maupun tingkat keuntungannya.
  2. Perhitungan selanjutnya adalah kajian organisasi Pemberi Waralaba yang telah dirancang perencanaan usahanya. Seperti yang telah diuraikan pada struktur fungsi organisasi pemberi waralaba di atas, perencanaan organisasi waralaba meliputi; pembuatan struktur fungsi dan organisasi pemberi waralaba, perhitungan investasi organisasi pemberi waralaba, perhitungan modal kerja dan biaya operasional organisasi pemberi waralaba.

 

Silang biaya dan proyeksi pendapatan antara, kajian model bisnis dan perencanaan organisasi pemberi waralaba. Silang biaya dan pendapatan ini dilakukan secara simulasi yang hasilnya akan memberikan output: biaya waralaba (franchise fee), royalty fee, dan beban biaya-biaya lain yang ideal, baik bagi pemberi waralaba dan penerima waralaba. Selain itu simulasi ini juga akan memperlihatkan target jumlah mitra yang harus direkrut, serta perbandingan kinerja usaha jika dikembangkan dengan waralaba atau dengan membuka cabang sendiri.

 

Misalnya saja dengan cara simulasi bisa dimulai dari:

  1. Unit model bisnis:
  • Apa saja investasi yang diperlukan pada sebuah model bisnis?

Jika dilihat dari uraian membentuk standarisasi model bisnis di atas, maka sudah diuraikan bahwa detil dari standarisasi bentuk akan menggambarkan berapa kebutuhan investasi dari model bisnis dimaksud. Berikut adalah contoh simulasinya:

(biaya dalam juta rupiah)

 

  • Berapa orang yang diperlukan pada model bisnis tersebut, dan berapa biayanya?

 

  • Berapa modal kerja yang diperlukan?

 

  • Berapa keuntungan usahanya?

Indikator Investasi

 

Dari simulasi model bisnis ini dapat diketahui berapa tingkat keuntungan dari usaha model bisnis ini untuk dibebankan franchise fee dan royalty fee.

 

Apakah jika nanti dibebankan franchise fee pada investasi bisnisnya, dan royalty fee pada biaya operasionalnya, akan tetap memberikan tingkat keuntungan yang layak dan menarik?

 

Dari contoh di atas, terlihat bahwa tingkat keuntungan dari model bisnis tersebut adalah 23,52% dan kembali modal (BEP) dalam waktu 6 bulan. Jika pemberi waralaba membebankan royalty fee sebesar 10%, maka tingkat keuntungannya akan berkurang menjadi 13,52%.

 

  1. Unit organisasi pemberi waralaba:

Pemberi waralaba juga perlu membuat proyeksi yang sama dengan membuat rincian investasi yang diperlukan dalam membangun unit organisasi pemberi waralaba, seperti misalnya:

  • Perijinan dan pendaftaran-pendaftaran yang berkaitan waralaba: (mungkin membuat) badan usaha baru, pendaftaran waralaba, pendaftaran merek, keanggotaan asosiasi, dan lainnya.
  • Investasi untuk prasarana dan sarana dari tim waralaba yang baru dibentuk; ruang kantor dan furnitur serta perlengkapan kerja lainnnya, sarana pusat pelatihan, pembuatan sistem IT dan membayar berbagai konsultan bisnis (konsultan waralaba, konsultan hukum, konsultan branding, dan lain sebagainya).

 

Pemberi waralaba juga perlu membuat proyeksi biaya rutinnya, seperti:

  • Biaya gaji
  • Biaya pemasaran (baik untuk merekrut penerima waralaba maupun untuk melakukan promosi nasional)
  • Biaya utilitas: listrik, telepon, internet, air dan lainnya
  • Biaya transportasi
  • Biaya pelatihan
  • Biaya monitoring
  • Biaya lain-lain yang rutin dikeluarkan setiap bulannya, termasuk, bunga pinjaman, pajak dan perhitungan depresiasi/amortisasi.

 

Jika pemberi waralaba sudah mendapatkan perhitungan pengeluaran biaya setiap bulannya, maka pemberi waralaba sudah dapat memperhitungkan target pendapatan yang harus didapatkan (income) setiap bulannya.

 

Pendapatan pemberi waralaba dapat diperoleh antara lain dari:

  • Franchise fee yang dibayarkan penerima waralaba baru maupun penerima waralaba lama yang akan memperbaharui kerjasama waralabanya. Jika ada penerima waralaba baru yang mengikat kerjasama dengan pemberi waralaba setiap bulannya, maka pemberi waralaba akan mendapatkan income franchise fee setiap bulan tersebut.
  • Royalty fee yang rutin dibayarkan oleh penerima waralaba setiap bulannya sesuai dengan perjanjian waralaba yang telah disepakati bersama. Penerimaan royalty fee ini akan terus diterima pemberi waralaba setiap bulannya sebagai passive income selama para mitra penerima waralabanya menjalankan usahanya dengan lancar dan tertib. Sekalipun pemberi waralaba tidak mendapatkan mitra penerima waralaba baru, akan tetapi jika para mitra penerima waralaba yang sudah bekerjasama menjalankan bisnisnya dengan lancar dan tertib, maka pemberi waralaba akan tetap mendapatkan pendapatan dari royalty fee. Untuk itu penting bagi pemberi waralaba mendukung para mitra penerima waralabanya agar usahanya semakin sukses dan tahan lama. Dengan demikian penerimaan royalty fee setiap bulannya juga akan semakin panjang.
  • Advertising fee yang dikontribusikan para mitra penerima waralaba setiap bulannya untuk melakukan promosi nasional. Sekalipun pendapatan dari advertising fee ini bukan menjadi obyek keuntungan pemberi waralaba (karena pemberi waralaba seharusnya mempertanggung jawabkan uang yang diterima dari advertising fee ini untuk kepentingan promosi nasional yang bermanfaat kembali bagi para mitra penerima waralaba), tetapi secara arus kas (cashflow) penerimaan ini dapat bermanfaat bagi pemberi waralaba untuk mengimbangi pengeluaran bulannya.
  • Penjualan bahan baku yang disuplai oleh pemberi waralaba kepada para penerima waralaba.
  • Penjualan atribut usaha (merchandising), seperti: materi promosi, seragam, papan nama atau signage, souvenir, dan lainnya.
  • Pendapatan dari biaya pelatihan lanjutan yang dilakukan pemberi waralaba kepada karyawan-karyawan baru penerima waralaba saat sudah berjalannya usaha. Pemberi waralaba juga dapat membuat pelatihan-pelatihan tambahan yang tidak wajib tetapi menarik dan bermanfaat untuk diikuti oleh penerima waralaba.
  • Mungkin pemberi waralaba dapat juga menerima pendapatan dari menyewakan peralatan dan properti kepada para mitra penerima waralabanya.

 

  1. Simulasi menentukan harga Franchise Fee dan Royalty Fee:

Simulasi perencanaan usaha unit organisasi pemberi waralaba dengan menguraikan proyeksi pendapatan unit organisasi pemberi waralaba dilawankan dengan proyeksi biaya pengeluaran bulanannya maka akan didapatkan proyeksi usaha unit organisasi pemberi waralaba.

 

Dari proyeksi tersebut dapat dianalisa berapa sebaiknya harga Franchise Fee dan Royalty Fee yang ditetapkan untuk penerima waralaba untuk menutupi proyeksi biaya rutin unit organisasi pemberi waralaba. Simulasi ini juga menganalisa dan memproyeksikan berapa lama investasi yang dikeluarkan untuk unit organisasi pemberi waralaba ini bisa kembali.

 

Apakah tingkat pengembalian modalnya (ROE) masih cukup menarik sebagai sebuah bisnis. Jika angka Franchise Fee dan S yang ditetapkan menghasilkan proyeksi usaha yang kurang bagus, maka rancangan harga tersebut dapat dirubah-rubah agar menghasilkan proyeksi usaha yang baik untuk unit organisasi pemberi waralaba dan unit organisasi penerima waralaba.

 

Dengan melakukan simulasi tersebut di atas, maka dapat dikaji apakah unit model bisnis tersebut layak untuk diwaralabakan atau tidak.

 

Kajian kelayakan waralaba dan materi untuk membentuk standar model bisnis ini dapat diuraikan kedalam modul materi pembelajaran yang umum seperti; materi finance for non-finance, kewirausahaan, membangun kreatifitas dan inovasi, serta lainnya.

Pada Materi berikutnya akan dijelaskan beberapa ulasan materi mengenai PEMASARAN FRANCHISE (RED MODULE) yang perlu dipahami oleh franchisor ketika menduplikasi usahanya sebagai bagian dari proses mewaralabakan usaha.